-->

Sukma_Kirana Poenya

Laman

  • Beranda

kata-kata bijak

Sabtu, 04 Agustus 2012

Maafkan Dita....

Ayah...Maafkan Dita.

 Sepasang suami istri ( seperti pasangan lain
 di kota2 besar meninggalkan anak2 diasuh pembantu rumah tangga sewaktu
 bekerja ).

 Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga
 setengah tahun. Ia sendirian di rumah dan kerap kali dibiarkan
 pembantunya karena sibuk bekerja di dapur.

 Bermainlah dia bersama
 ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga
 dan lain-lain di halaman rumahnya.

 Suatu hari dia melihat sebatang
 paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan,
 tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak
 kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya...karena mobil itu
 berwarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak ini pun
 membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

 Hari itu ayah dan ibunya
 bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah
 kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil.
 Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam,
 kucing dan lain sebagainya mengikuti imajinasinya. Kejadian itu
 berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

 Saat pulang petang,
 terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun
 dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang
 belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa
 ini!!!..."

 Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari
 keluar. Dia juga terkejut. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat
 wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya,
 dia terus mengatakan, "Saya tidak tahu..tuan." "Kamu di rumah sepanjang
 hari, apa saja yang kamu lakukan?" hardik si istri.

 Si anak yang
 mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan
 penuh manja dia berkata "Dita yang membuat gambar itu ayahhh..cantik
 kan..!" katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.


 Si ayah yang sudah kehilangan kesabaran mengambil sebatang ranting
 kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke
 telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa menangis
 kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si
 ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan si ibu cuma
 mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang
 dikenakan.

 Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa...
 Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan
 kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu
 rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

 Dia
 terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil
 luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil
 menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga
 menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si
 pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan
 anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah
 tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. "Oleskan
 obat saja!" jawab bapak si anak.

 Pulang dari kerja, dia tidak
 memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu.
 Si ayah mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah
 tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski
 setiap hari bertanya pada pembantu rumah. "Dita demam, Bu"...jawab si
 pembantu ringkas. Kasih minum Panadol saja," jawab si ibu. Sebelum si
ibu masuk kamar tidur, ia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat
 anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar
 pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya
 bahwa suhu badan Dita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke
 klinik..Pukul 5.00 sudah siap" kata majikannya itu. Sampai saatnya si
 anak yang sudah lemah dibawa ke klinik.

 Dokter mengarahkan agar ia
 dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa
 hari di rawat inap, dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada
 pilihan..." kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak
 itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut...
 "Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya
 harus dipotong dari siku ke bawah" kata dokter itu. Si bapak dan ibu
 bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia
 berhenti berputar, tapi apa yang dapat dikatakan lagi...

 Si ibu
 meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata
 istrinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan
 pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan
 habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua
 tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian
 ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua
 menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan
 air mata. "Ayah..ibu..Dita tidak akan melakukannya lagi... Dita tidak
 mau lagi ayah pukul. Dita tidak mau jahat lagi...Dita sayang
 ayah...sayang ibu.", katanya berulang kali membuat si ibu gagal menahan
 rasa sedihnya. "Dita juga sayang Mbok Narti.." katanya memandang wajah
 pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.


 "Ayah...kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil? Dita janji tidak
 akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?..
 Bagaimana caranya Dita mau bermain nanti?.. Dita janji tidak akan
 mencoret-coret mobil lagi." katanya berulang-ulang.

 Serasa hancur hati
 si ibu mendengar kata2 anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun apa
 yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah menjadi
 bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua
 tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus
 dipotong meski ia sudah meminta maaf.

 Tahun demi tahun kedua orang tua
 tersebut menahan kepedihan dan kehancuran batin sampai suatu saat sang
 Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan ia wafat diiringi tangis
 penyesalan yang tak bertepi.

 Namun...si anak dengan segala
 keterbatasannya dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan
 sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya...
Diposting oleh sukma_kirana poenya di 07.55
Label: Sepenggal Kisah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Jam


Mengenai Saya

Foto saya
sukma_kirana poenya
Blog ini untuk perawat yang lalu, yang sekarang dan yang akan datang...Semoga apa yang ada di blog ini dapat bermanfaat bagi Anda...
Lihat profil lengkapku

BMI

The BMI is calculated with the formula body weight in kilogramm divided by height in meter to square. To make it easy for visitor of your homepage to calculate the Body Mass Index, use the Free BMI Widget/BMI-Club . Allow me to call your attention to Body Mass Index Calculator.
Thank you for using the Body Mass Index calculator of BMI-Club.

Lencana Facebook

Sukma Kirana
Sukma Kirana
Buat Lencana Anda

Pengikut

Arsip Blog

  • ►  2013 (1)
    • ►  Januari (1)
  • ▼  2012 (9)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (1)
    • ▼  Agustus (2)
      • Maafkan Dita....
      • Kisah Sedih Penyesalan Istri terhadap suaminya
  • ►  2009 (9)
    • ►  Mei (9)

rose

cursor

Lucky Charms Rainbow
Tema Kelembutan. Diberdayakan oleh Blogger.